MENGEDIT NASKAH SEBELUM DIKIRIM KE PENERBIT

mengedit naskah

blog.rifainstitute.com- Sesudah kita mempelajari cara membuat buku ajar dan novel yang berkualitas, selanjutnya hal yang mesti kita pelajari adalah cara mengedit naskah tersebut sebelum dikirim ke penerbit. Setiap penerbit mempunyai genre yang berbeda, maka hal pertama yang mesti kita perhatikan adalah kecocokan naskah kita dengan penerbit yang akan kita tuju.

Misalnya penerbit A hanya fokus menerbitkan buku-buku tentang pendidikan, maka jika naskah kita bukan tentang pendidikan, maka jangan dikirim ke penerbit A, tapi cari penerbit lain yang sesuai dengan pembahasan kita. Tapi selain itu, ada juga penerbit yang bisa menerbitkan tentang segala jenis. Lebih lengkapnya, nanti akan kita bahas dalam bab beberapa jenis penerbit.

Sekarang kita akan fokus kepada cara mengirim naskah kepada penerbit, dan hal-hal apa saja yang mesti kita perhatikan.

Naskah Harus Sudah Rapi

Kebanyakan penulis pemula biasanya enggan mengedit naskah nya lagi, dan hal ini membuat para editor enggan untuk mengurusnya lebih lanjut. Walau pun gagasan yang sudah sampaikan bagus, walau alur cerita yang kita buat menarik, tetapi jika banyak terjadi kesalahan pengetikan atau banyak yang tidak sesuai EYD, maka kesempatan untuk diterima dan diterbitkannya jadi mengecil.

Maka biasakan kita untuk mengecek kembali apa yang sudah kita tuliskan, untuk menghindari banyak typo dan kata yang tidak baku. Jika pun kita terpaksa menggunakan kata yang tidak baku, maka usahakan untuk dicetak miring.

Menurut penuturan salah satu editor di penerbitan ternama, hal pertama yang dinilai dari naskah itu adalah kerapian penulisannya. Jadi sebelum dikirimkan ke penerbit, usahakan naskah kita sudah benar-benar rapi dan siap bersaing dengan naskah yang lainnya.

Memakai Bahasa yang Bikin Betah

Kita mungkin sudah sering mendengar dari kebanyakan editor, jika halaman pertama kita yang akan menentukan apakah editor akan meneruskan membaca naskah kita atau tidak. Maka kita pun sering terlalu memfokuskan diri pada halaman pertama itu, dan mengabaikan halaman selanjutnya.

Membuat menarik di halaman pertama memang sangat dianjurkan, namun jangan sampai kekuatan bahasanya mengurang di halaman-halaman berikutnya, karena naskah yang unik dan banyak dicari adalah naskah yang punya kekuatan dari awal hingga akhir.

Kunci utama supaya naskah kita diterbitkan dan diterima pembaca luas, menurut editor Gramedia, ialah bahasa sederhana yang ketika dibaca bisa bikin betah. Maka kekuatan cara menyampaikan lebih utama untuk diasah, sebelum memerhatikan alur dan karakter tokoh.

Maka sebelum naskah dikirim ke penerbit, kita bisa mengirimnya ke teman terlebih dahulu, dan minta pendapat apakah ia sudah merasa betah membacanya atau belum.

Membuat Sinopsis yang Lengkap

Maksud sinopsis di sini ialah bukan sinopsis yang biasa hadir di belakang sampul buku, yang biasanya hanya terdiri dari beberapa paragraf saja, tetapi sinopsis lengkap sebagai gambaran besar isi naskah kita. Tentu ditulis dengan sedikit lebih panjang ketimbang sinopsis di belakang sampul, dan sinopsis itu ditujukan untuk dibaca editor agar bisa tahu keseluruhan naskah kita, bukan diakhiri dengan pertanyaan yang dapat mengundang rasa penasaran.

Biasanya sinopsis yang tertera di belakang sampul hanya menuturkan awal, dan bagaimana konflik itu tercipta, lalu diakhiri dengan sebuah pertanyaan untuk mengundang rasa penasaran. Maka di sinopsis yang akan kirimkan ke penerbit harus kita tuturkan juga bagaimana akhir ceritanya, dan bagaimana itu bisa terjadi. Maksudnya harus ada keselarasan antara awal cerita, konflik dan endingnya.

Dari sinopsis yang kita buat juga bisa menentukan apakah naskah kita layak terbit atau tidak. Jadi saat membuat sinopsis juga jangan asal, tapi harus bisa menggambarkan keseluruhan isi naskah kita.

Membuat Identitas Diri

Hal selanjutnya yang mesti kita persiapkan dalam mengedit naskah adalah membuat identitas diri. Identitas diri tentu sangat penting sekali, selain untuk mengetahui nama dan latar belakang, tapi juga untuk memberitahukan apakah kita punya karya sebelumnya atau belum. Jika sudah ada, bisa disebutkan, baik dalam berupa buku yang sudah diterbitkan, atau pun karya tulis lainnya yang terbit di media cetak atau online.

Dalam membuat identitas diri diusahakan dibuat seadanya saja, tidak perlu memuji diri sendiri secara berlebihan. Misalnya dengan menulis daftar panjang seminar penulisan yang sudah kita ikuti, atau menyebut satu persatu karya yang sudah kita tulis. Apalagi jika sampai berbohong dengan harapan bisa membuat editor terpukau.

Kita tuliskan saja beberapa karya yang sudah kita buat, yang dapat mewakili hal apa atau bidang studi apa yang biasa kita geluti. Jaman sekarang personal branding memang sangat perlu, tapi jangan berlebihan juga, dan biarkan editor menilainya dari naskah yang sudah kita siapkan baik-baik. Kita juga bisa mengirimkan nama media sosial kita, untuk bisa mengenalkan diri lebih lanjut.

Yang mesti kita hindarkan adalah kita lupa tidak mengirimkan identitas diri kita, karena dengan begitu naskah kita sudah bisa dipastikan tidak akan diterbitkan. Tentu, editor tidak akan menerbitkan naskah yang tanpa nama penulisnya siapa, ya kan? Jadi, jangan lupa untuk mengirim juga identitas diri.

Apakah Anda sedang menulis atau ingin menjadi penulis buku? Kami dengan senang hati bersedia melayani untuk menjadi teman diskusi, juga bersedia membantu untuk menerbitkannya. Silakan klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Butuh bantuan?
Halo 🖐
Ada yang bisa mimin bantu?