MENULIS NOVEL YANG MENARIK DAN SESUAI KAIDAH (Bagian 2) - RIFA'WEB

MENULIS NOVEL YANG MENARIK DAN SESUAI KAIDAH (Bagian 2)

blog.rifainstitute.com– Kemarin kita sudah membahas  menulis novel yang Menarik dan Sesuai Kaidah bagian Genre, Penokohan dan Penentuan Karakter. Sekarang mari kita lanjutkan.

4. Alur atau Plot

Alur atau plot adalah jalan cerita yang akan kita susun. Ini penting kita tentukan di awal, supaya saat pengerjaan menulis novel, kita tidak terhenti karena bingun atau buntu dengan jalan ceritanya. Ada tiga teknik dalam pemakaian plot, yaitu: plot maju, plot mundur dan plot maju mundur.

Plot maju adalah alur cerita yang kita susun dari awal hingga selesai sesuai dengan waktu terjadinya. Jadi alur ceritanya terus bergerak ke depan sesuai waktu yang sedang kita jalani.

Plot mundur adalah kebalikannya. Yaitu alur yang diawali dari akhir ceritanya, lalu membayangkan atau menceritakan kembali apa yang terjadi di masa lalu. Atau dengan kata lain, plot mundur adalah jalan cerita yang sudah dialami oleh tokohnya, yang lalu diceritakan kembali.

Plot maju mundur merupakan perpaduan antara kedua plot di atas. Di satu sisi si tokoh mengenang atau mengulas apa yang sudah terjadi, dan di sisi lain ia pun bergerak maju menghadapi cerita-cerita baru lagi.

5. Seting Tempat dan Waktu

Seting tempat dan waktu bertujuan untuk memudahkan pembaca saat hendak membayangkan dan memasuki konteksnya. Misal kita ambil contoh novel Dilan karya Pidi Baiq, yang mempunyai seting tempat di Bandung, dan seting waktu pada tahun 1990 dan 1991.

Pemilihan tempat dan waktu yang sesuai dengan alur cerita, akan menimbulkan kesan yang lebih kuat, dan itu dapat dirasakan bukan hanya oleh orang Bandung dan yang hidup pada tahun 1990 dan 1991 saja, tapi oleh siapa saja.

Apalagi kalau kita memilih genre sejarah, yang pemilihan tempat dan waktunya tidak boleh asal, tapi harus penuh dengan riset terlebih dahulu, agar yang kita sampaikan sesuai dengan konteksnya.

6. Sudut Pandang

Yang dimaksud dengan sudut pandang di sini adalah sudut pandang dalam teknik penulisan, bukan sudut pandang si tokoh, karena sudut pandang si tokoh bisa masuk ke dalam karakter tokoh. Sudut pandang penulisan ada tiga bentuk, yaitu: sebagai orang pertama, sebagai orang kedua dan sebagai orang ketiga.

Sudut pandang orang pertama yaitu tokoh utamanya yang berbicara. Bisa memakai kata “saya” atau “aku”. Jadi si tokoh utama yang berbicara dari awal sampai akhir cerita, berserta pandangan-pandangannya. Misalnya dalam novel “Dilan”

Sudut pandang orang kedua yaitu yang berbicaranya sebagai tokoh tritagonis, atau teman dari si tokoh utama. Bisa juga misalnya seorang jurnalis yang menceritakan seseorang yang sedang ada dalam pengawasannya. Misalnya dalam novel, “Gilkey si Pencuri Buku.”

Sudut pandang orang ketiga yaitu yang berbicaranya sebagai pendongeng yang menuturkan kisah orang lain. Kita memerhatikan tokoh utama beserta alur ceritanya seperti di dalam rumah kaca, kita seperti dalang yang memainkan wayang-wayangnya. Misalnya novel “Pasar” karangan Kuntowijoyo.

7. Konflik

Novel menjadi menarik untuk terus diikuti karena memiliki konflik. Secara umum, konflik bisa diartikan sebagai suatu peristiwa dimana terjadi pertentangan atau pertikaian, baik antar individu dengan individu, individu dengan kelompok atau pun kelompok dengan kelompok. Dalam hal ini pertikaian itu terjadi antara tokoh pratagonis dan tokoh antagonis.

Pertentangan atau pertikaian di sini tidak mesti selalu beradu fisik atau pun saling membenci antara keduanya, tapi perbedaan pandangan hidup yang membuat keduanya terus berdiskusi pun secara tidak langsung sudah menjadi konflik tersendiri.

Kebanyakan penulis novel terjebak kepada konflik yang biasa hadir di dalam sinetron, dan nyaris selalu menghadirkan pertengkaran antara tokoh pratagonis dan tokoh antagonisnya.

Padahal konflik itu bisa sesederhana pandangan hidup si pratagonis berbeda dengan pandangan hidup masyarakat kebanyakan misalnya, yang membuat tokoh pratagonis kita terasing dari masyarakatnya, dan disaat itulah tokoh pratagonis kita tertantang apakah akan mengikuti pandangan hidup masyarakat kebanyakan atau berpegang teguh kepada pendiriannya tetapi terasing.

8. Ending

Ending merupakan bagian terakhir dari cerita yang akan kita sajikan. Bagian ending juga bagian yang sangat menentukan untuk menimbulkan kesan pembaca. Dalam bagian ending, kita memutuskan apakah si tokoh utama memenangkan konfliknya yang selama alur cerita kita buat, atau sebaliknya.

Jika si tokoh utama kita memenangkan konfliknya, maka sering disebut dengan happy ending. Dan jika yang terjadi sebaliknya, maka sering disebut dengan unhappy ending.

Dalam menentukan bagian akhir cerita atau ending, itu bagaimana kita memainkan perasaan dan pemikiran pembaca. Jika bagian akhir cerita kita sudah bisa ditebak oleh pembaca, atau dalam artian bahwa konflik yang kita bawakan datar-datar saja, maka bagian akhirnya akan sangat terasa biasa saja, atau sudah bisa diterka dari awal konflik tercipta. Tetapi jika kita bisa menyuguhkan yang sebaliknya, beserta landasan-landasan yang mendasarinya, maka itu yang biasa disebut sebagai klimaks dari sebuah cerita.

Dari uraian tersebut, semoga memberikan kemudahan untuk kita agar bisa menulis novel yang menarik dan sesuai kaidah. Sekian dan terimakasih. Selamat berkarya!

Apakah Anda sedang menulis atau ingin menjadi penulis buku? Kami dengan senang hati bersedia melayani untuk menjadi teman diskusi, juga bersedia membantu untuk menerbitkannya. Silakan klik di sini.

<= Cek sebelumnya.

Bagikan ke teman Anda!

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. 6 Oktober 2020

    […] Klik untuk selanjutnya => […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Butuh bantuan?
Halo 🖐
Ada yang bisa mimin bantu?